Update As Shufi

Friday, 12 August 2016

Perlambat Pikiran

Satu hal lagi yang ingin saya kupas disini selain fokus yaitu memperlambat pikiran. Untuk bisa menatap hal-hal kecil dan sulit terjangkau maka kita harus memperlambat pikiran. Caranya dengan banyak meditasi. 

Dengan pikiran yang lambat kita lebih mampu merasakan pergerakan waktu detik demi detik sehingga kita lebih menghargai waktu dengan sesuatu yang lebih berharga. 


Friday, August 12, 2016

Jihadil Nafs

Zaman sekarang berjihad di jalan perang sulit ditemukan. Bukan karena penindasan tiada lagi tetapi umat muslim yang mayoritas sekarang sudah kuat dalam hal persatuan sehingga musuh Islam takkan lagi menyerang secara terang-terangan memerangi muslim. 

Sehingga dari sisi fisik Islam takkan lagi memiliki jalur jihad fisik. Jalur jihad yang tersisa adalah Jihadil Nafs. Yaitu jihad melawan hawa nafsu. 

Musuh Islam, kini mengetahui bagaimana merusak Islam dalam dalam hal akhlak yaitu dengan menguasai media di seluruh dunia dan menawarkan banyak fitur miskin moral dan tauhid. Mata dan telinga begitu gampangnya mendapatkan konsumsi penggoda syahwat baik secara langsung maupun tersirat. 

Sekaranglah kita semua individu harus menegakkan Jihadil Nafs. 
Friday, August 12, 2016

Tuesday, 9 August 2016

Hacking Waktu

Jika kita menunggu waktu mengubah kita maka kita telah berada dalam kesalahan besar. Tak ada perubahan disana kecuali masalah yang terus berulang. 

Waktu yang telah kau hack akan mampu menunjukkan segala rahasia tersembunyi yang tentunya itu adalah keindahan. 
Tuesday, August 09, 2016

Saturday, 6 August 2016

Sel-sel Cinta

*Penemuan  Menggemparkan Manusia di Amerika :*

Menyatakan bahwa sel-sel kanker paling takut dengan CINTA.
Penelitian menemukan banyak orang sakit karena tidak punya (cinta kasih)!

Profesor Amerika  霍金斯 yg adalah seorang dokter terkenal, dia telah mengobati banyak orang sakit dari berbagai belahan dunia. Begitu melihat seseorang, dia sudah tahu mengapa orang itu sakit. Karena dari tubuhnya TIDAK DITEMUKAN sedikitpun "kasih" dalam dirinya., Hanya ada penderitaan, keluhan dan deraian air mata yang membungkus seluruh tubuhnya. 

Profesor 霍金斯 mengatakan: Kebanyakan orang sakit karena tidak ada hati kasih dalam dirinya. Yang ada hanya kesedihan dan deraian air mata. Getaran magnet kasih dibawah 200 menyebabkan mudah terserang sakit.

大微霍金斯 mendapati bahwa  sebagian orang sakit SELALU menggunakan pikiran negatif. Jika frekuensi cinta kasih seseorang DIATAS 200 maka dia tidak akan sakit. 

Pikiran atau niat negatif mana yang ada di bawah getaran 200? Yaitu suka mengeluh, suka menyalahkan orang lain, dendam pada orang. Kalau pikiran ini yang menguasai pikirannya berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 saja.  Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar tenaga sehingga frekuensi cinta kasihnya berada dibawah 200. Orang- orang seperti itu SANGAT MUDAH  mengidap berbagai jenis penyakit.

Frekuensi paling tinggi berada di angka 1000 dan yang paling rendah berada di angka 1. Beliau mengatakan di dunia ini dia telah melihat yang mempunyai frekuensi positif di atas 700 maka kekebalannya/ kemampuannya sangat cukup. Jika orang-orang seperti itu tampil di suatu tempat maka ia bisa mempengaruhi frekuensi positif di daerah itu. Seorang yang berkebajikan tinggi yg mendapatkan penghargaan novel perdamaian seperti Bunda Teresa jika muncul di suatu tempat maka frekuensi di tempat itu pun menjadi positif dan sangat tinggi. semua orang yang hadir di tempat tersebut akan merasakan getaran kasihnya yang sangat tinggi, semua orang merasa nyaman dan sangat tergugah di dalamnya.

Pada saat orang yang memiliki getaran HAWA positif tampil di suatu tempat maka dia akan menggerakkan semua orang dan makhluk yang ada di tempat itu menjadi nyaman dan merasa damai. 

Namun pada saat orang  memiliki pikiran  negatif muncul di suatu tempat bukan saja akan mencelakai dirinya sendiri tetapi juga bisa menyebabkan ATMOSFIR / HAWA POSITIF ditempat tersebut memburuk.

Profesor 霍金斯 telah melakukan puluhan ribu riset contoh kasus dan penelitian pada orang-orang yang berbeda namun jawabannya serupa yaitu : asal getaran frekuensinya berada DIBAWAH  200 maka orang itu PASTI SAKIT. Tapi jika berada DIATAS 200 maka orang itu TIDAK SAKIT.  

Yang diatas 200 : apa saja yg  didasari dengan hati Welas Asih, cinta kasih, suka beramal, gampang memaafkan, lemah lembut, dan lain-lain. Ini semua berada di frekuensi sekitar 400-500.

Sebaliknya suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, iri hati, menuntut orang lain, egois, dalam semua hal hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain,  orang-orang seperti itu mempunyai frekuensi magnet yang PALING RENDAH. Hal itu yg menyebabkan menjadi penyakit kanker, sakit jantung dan penyebab penyakit lainnya.

Dia memberitahukan kepada kita dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan dan penyakit seseorang.

*Kekuatan Cinta :*
Seorang seniman biola setelah mengidap penyakit kanker dia berjuang melawan penyakitnya namun dia merasakan semakin hari semakin memburuk lalu dia memperbaiki konsep pikirannya dengan mencintai semua sel kanker yang ada dalam dirinya sendiri, dia melihat sel kanker yang menyakitkan itu sebagai sebuah pelayanan pada dirinya dan ia berterima kasih padanya dan dia merasakan perasaannya lebih nyaman. Selanjutnya dia memutuskan menjalani dengan Cinta untuk menghadapi dan semua masalah yang dihadapinya dia memutuskan untuk melayani setiap orang dan dirinya sendiri dengan cinta.

Setelah beberapa waktu berlalu di luar dugaan, semua sel-sel kanker dalam dirinya menjadi hilang. Terakhir dia menjadi seorang ahli therapy  di Jepang. Dia mendapati dasar dari semua kehidupan adalah CINTA.. Pada saat seseorang telah bisa hidup dengan cinta, maka dia bisa mendapatkan kedamaian dan kesehatan secara fisik dan batin.

*"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."*

🙏Tetap semangat... 🤓😎🤓
Saturday, August 06, 2016

Tuesday, 19 July 2016

Mengapa Kita Bertasawuf

Tugas-tugas syariah yang diperintahkan pada diri manusia terbagi menjadi dua.

Pertama hukum-hukum yang berhubungan dengan aspek amaliyah lahiriyah.

kedua hukum-hukum yang berhubungan dengan amaliyah bathiniyah.

Dengan kata lain ada aturan ibadah yang berhubungan dengan fisik, ada pula yang berhubungan dengan qalbu.

Amaliyah fisik terbagi dua. Perintah dan larangan. Perintah-perintah Ilahi di sini seperti sholat, zakat, haji dst. Sedangkan larangan seperti larangan membunuh, zina, mencuri, meminum khamar, korupsi dsb.

Hal yang sama dalam amaliyah Qalbu terbagi dua, perintah dan larangan.

Perintah-perintahnya seperti Iman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitabNya dan RasulNya, dsb. Seperti ikhlas, ridlo, syukur, jujur, khusyu’ dan tawakkal.

Sedangkan larangan Qalbu seperti kufur, nifaq, takabur, ujub, riya’, iri dengki, ghurur, dendam dsb.

Bagian kedua inilah yang berhubungan dengan qalbu, lebih penting urgensinya dibanding yang pertama (amaliyah lahiriyah) – walaupun secara keseluruhan sama-sama pentingnya – karena alam batin itu merupakan fondasi alam lahir, sekaligus sebagai sumber aspek lahiriyah. Jika amaliyah batin rusak, akan rusak pula amaliyah lahiriyahnya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“Siapa yang menghendaki bertemu Tuhannya, hendaknya melakukan amliyah yang baik, dan sama sekali tidak menyekutukan Tuhan dalam ibadahnya.” (Al-Kahfi 110)

Oleh sebab itu Rasulullah saw, sangat menekankan kepada para sahabatnya agar memperbaiki qalbunya, dan menjelaskan bahwa kebaikan manusia itu sangat tergantung pada kebaikan hatinya, menyembuhkan hatinya dari penyakit-penyakit yang tersembunyi di dalamnya. Beliau bersabda: “Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah (hati), jika baik maka baiklah seluruh jasad, jika jelek maka jelek pula seluruh jasad. Ingatlah, segumpal darah itu adalah qalbu.” (hr. Bukhari)

Begitu pula dalam hadits lain, Rasulullah saw, mengajarkan bahwa titik pandang Allah Ta’ala itu adalah qalbu.“Sesungguhnya Allah tidak memandang jasadmu dan rupamu. Tetapi Allah memandang pada hatimu.”

Maka, sepanjang manusia melakukan kebajikan yang berhubungan dengan qalbunya yang menjadi sumber amaliyah lahiriyahnya, maka menjadi keharusan bahwa dirinya harus menepiskan (takhalli) segala sifat yang tercela yang dilarang Allah, kemudian merias (tahalli) dengan sifat terpuji yang baik yang diperintahkan Allah kepada kita, maka pada saat itulah qalbu kita selamat dan sehat. Kita menjadi golongan yang beruntung, selamat pula, sebagaimana firmanNya:

“Di hari yang mana harta dan anak-anak tidak ada lagi gunanya, kecuali orang yang telah dianugerahi Allah dengan qalbu yang salim (selamat).” (Asy-Syu’ara’ : 88-89).

Imam Jalaluddin as-Suyuthy ra, mengatakan, “Sedangkan ilmu tentang qalbu dan mengenal penyakitnya, berupa iri dengki, ujub, dan riya’ serta semisalnya, maka Al-Ghazaly mengatakan, “Adalah Fardlu ‘Ain”.

Membersihkan qalbu, menyucikan jiwa termasuk fardlu paling utama dan merupakan kewajiban Ilahi dibalik perintahNya, sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an:

Katakan, sesungguhnya Allah mengharamkan keburukan-keburukan baik yang lahir maupun yang batin” (Al-A’raaf 33)

“Janganlah mendekati keburukan-keburukan baik yang tampak maupun tersembunyi (lahir dan batin)”. (Al-Anaam 151.)

Keburukan batin menurut para mufassir adalah dendam, riya’ dengki dan nifaq.

Sedangkan dari sunnah disebutkan:

Setiap hadits Nabi saw, yang menegaskan larangan tentang dendam, takabur, riya’ dan dengki, begitu juga hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk berias dengan akhlaq yang baik dan bekerja yang baik, maka semua itu mendukung pentingnya tasawuf.

Pengarang kitab Maraqil Falah, mengatakan,” tidak ada gunanya bersuci badan kecuali dengan bersuci batin melalui keikhlasan, kebersihan jiwa dari belenggu nafsu, penipuan, dendam dan dengki, serta membersihkan hati dari segala hal selain Allah, baik jagad dunia maupun jagad akhirat. Sehingga hamba hanya menyembah Dzat Allah, bukan karena sebab tertentu. Menyembah dengan penuh rasa butuh padaNya, dan Allah melalui anugerahNya memenuhi hajat para makhlukNya sebagai Kasih sayangNya. Karena itu dalam ibadahnya mestinya si hamba hanya menuju Yang Satu dan Yang Maha Tunggal, tidak ada satu pun selain Dia, begitu juga hawa nafsu anda tidak mempengaruhi diri anda ketika bakti kepadaNya.”

Penyakit hati ini sebagai faktor yang menyebabkan jauhnya hamba dengan Allah, menjauhkan pula dari syurgaNya. Rasulullah saw, bersabda, “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya masih ada sebiji atom ketakaburan.”

Kadang manusia tidak mengenal cacat dirinya, bahkan penyakit itu telah menghujam dalam di hatinya, tetapi malah dirinya menganggap telah sempurna. Lalu apa yang akan ditempuh untuk mengenal penyakit-penyakit itu, mengenal detil dalam-dalamnya yang lembut, bagaimana pula terapinya dan mebersihkannya?

Sungguh, Tasawwuf adalah ilmu yang secara khusus mendisiplinkan pada upaya pembersihan hati, mengobati penyakit hati, menyucikan jiwa dan membuang sifat-sifat manusiawi yang hina.

Dunia Islam menjadi lemah justru ketika meninggalkan ruhul Islam, yang ada dalam dunia Sufi, bahkan dunia Islam hanya tersisa kulit-kulitnya, kerangka tanpa ruhnya.

Oleh karena itu kita melihat para Ulama yang mengamalkan ilmunya, para Mursyid yang cemerlang, senantiasa memberikan nasehat manusia agar memasuki dunia Sufi dan bermajlis dengan mereka, agar terpadu antara jasad Islam dan Ruh Islam, agar merasakan makna kebeningan hati yang luhur yang elok, dan merasakan ma’rifatullah dengan haqqul yaqin, sehingga mereka bisa berias dengan CintaNya, Muraqabah padaNya dan melanggengkan dzikir padaNya.

Hijjatul Islam Al-Ghazali mengatakan, ketika mendorong ummat untuk masuk ke dunia tasawuf dan merasakan buahnya, “Masuk dunia tasawuf itu Fardlu ‘Ain, karena setiap orang tidak akan mengenal cacat dirinya kecuali para Nabi – semoga sholawat dan salam pada mereka semua –“

Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily mengatakan, “Siapa yang tidak berkecimpung dalam ilmu kita ini (tasawuf) maka ia bisa mati dengan membawa dosa besar, sedangkan dia tidak mengerti….”

Dalam ucapan Syeikh ini, Ibnu ‘Allan ash-Shiddiqy berkomentar mengenai ungkapan Abul Hasan Asy-Syadzily,

Pribadi mana wahai saudaraku yang berpuasa tetapi tidak kagum dengan puasanya?

Pribadi mana yang sholat tetapi tidak kagum dengan prestasi sholatnya? Begitu pula seluruh taat kita kepadaNya….”

Maka dari itu, ketika menempuh jalan seperti itu begitu sulit, bagi jiwa yang masih kurang pengetahuannya, setiap orang harus bisa melakukan mujahadah, kesabaran, sampai dia benar-benar selamat situasi yang membuatnya jauh dari Allah dan selamat dari amarahNya.

Fudlail bin ‘Iyadl mengatakan, “Seharusnya anda menekuni thariqat yang benar, dan anda jangan terpengaruh oleh jumlah minoritas para penempuh Jalan Allah. Hati-hati dengan jalan bathil, dan jangan tertipu oleh dukungan mayoritas pada kebanyakan penempuh jalan kebatilan”.

Jika anda merasa terganggu oleh kesendirian anda, maka lihatlah kepada mereka yang menempuh Jalan Allah itu (para Sufi), bersegeralah menuju kepada mereka dan tutuplah mata anda dari yang lain ketika bersama, karena mereka tidak butuh sesuatu dari anda. Dan ketika mereka menggiring anda menuju jalan anda, jangan menoleh pada mereka, karena kalau anda menoleh pada mereka, mereka akan marah pada anda.”

Tuesday, July 19, 2016

Wednesday, 6 July 2016

Langkahkan Kaki secara Nyata

Silaturahmi bukanlah melalui dunia maya tetapi melalui pertemuan yang nyata. Nantinya segala kesalah pahaman akan luntur dengan sendirinya karena perkara hati hanya Allah yang mengetahuinya sedangkan efeknya luar biasa. 

Stop share kata di media sosial karena tidak ada efeknya. Saatnya melakukan hal nyata yaitu melangkahkan kaki ke rumah sanak saudara terdekat. Mumpung kita masih punya waktu. 

Adakah diantara kita yang mulai memudar penglihatannya?

Ini pertanda silaturahmi harus segera dilaksanakan. 
Wednesday, July 06, 2016